Saturday, October 25, 2014

Antara Jarak ,Waktu dan Cinta

           
        
        Malam itu mungkin menjadi malam terindah bagi ku, bahkan menjadikan malam layaknya tempat impian yang penuh akan harapan yang membahagiakan. Bagai malam penuh bintang yang menghiasi langit malam, di tambah dengan cahaya sang bulan yang terang bagai lampion di kegelapan malam. Begitu menenangkan. Kau tahu mengapa?. Karena aku bisa mendapatkan cinta seutuhnya gadis pujaan ku, yang sudah lama aku mengejar cintanya. Annisa.

 Tak terasa sudah 2 tahun kami menjalani kisah cinta kami, melewati hari hari bersama hingga kelulusan sekolahpun tiba. Annisa yang saat itu masih kelas 2 SMA dan aku Rama kelas 3 SMA. Saat itulah ujian cinta kita di mulai, yang sebelumnya tak pernah kami bayangkan dan fikirkan. Karena kami terlalu asyik menikmati indahnya cinta. Bagi kami masa depan urusan belakangan, yang harus kita jalani adalah saat ini.

***

Beberapa hari kemudia setelah acara kelulusan,aku dan Annisa ketemuan di taman  sekolah. “ Selamat ya sayang, kamu sudah lulus dengan membanggakan.”Annisa member selamat atas kelulusanku sambil memelukku. Aku sangat senang saat itu, tapi ada sesuatu hal yang ingin aku beri tahu padanya tapi tak tega.

“Kamu kenapa sayang? Kayaknya kamu kok tidak senang?” Tanya annisa penasaran. Aku ingin memberitahukannya tapi sebenarnya ku tak ingin. “Sayang.. ? yang..?” aku masih terdiam. Setelah kupikir pikir lagi, aku memang harus memberitahunya.

“Sayang.. sebenarnya ada yang aku bicarain sama kamu, tapi kamu jangan salah paham dulu ya sayang.” Dengan nada berat hati ku berbicara. “Iya sayang, memang ada apa?.” Annisa jadi bingung dan khawatir.

“Mungkin untuk sementara waktu kita tak bisa bertemu.!” Sambil mengajak Annisa ketempat duduk yang berada di sebelah kami. “Lho kenapa memangnya? Ada yang salah dengan hubungan kita?” Tanya Annisa dengan wajah kecewa.

“Tidak sayang, tidak.. Tidak ada yang salah dengan hubungan kita ini.” Mencoba untuk menenangkan Annisa yang mulai salah paham. “Begini, Aku dan keluarga ku akan pindah keluar negeri, di Jepang. Karena ayah ku ada dinas kesana selama 4 tahun, dan selama disana aku di suruh untuk kuliah disana juga.”Meneruskan pembicaraanku yang sempat terputus.

“Ha..? Apa..?.. Jadi kamu akan pergi jauh dan kita tak akan pernah bertemu lagi?” Annisa tidak percaya dan mulai meneteskan air mata. “Sayang, aku pasti kembali. Kembali untuk kamu sayang, setelah aku lulus dan urusan pekerjaan ayahku selesai aku pasti kembali, dan kita akan selalu bersama lagi sayang.” Kuulang kata kata kembali untuk lebih meyakinkan Annisa.

Tangis Annisa membuat ku semakin bingung, semakin berat untuk meninggalkannya. “Sayang, percayalah padaku, aku takkan melupakanmu. Aku akan selalu memberi kabar kepadamu, walau raga kita jauh tapi hati kita kan selalu dekat. Aku percaya akan cinta kita, percaya akan masa depan kita bahwa kita akan selalu bersama.” Mencoba untuk meyakinkan Annisa lagi.

Pada akhirnya Annisapun mulai mengerti walau air matanya masih menetes. “Baiklah sayang, aku percaya pada mu pada cinta kita. Aku akan selalu menunggumu disini sampai kamu kembali.” Jawab Annisa lirih, dan ku peluk erat dia.

***

Tanggal 17 Juli 2010, pukul 10.00 WIB kami sekeluarga sudah berada di bandara untuk bersiap siap berangkat ke Jepang. Disitu juga terdapat Annisa yang mengantar keberangkatannku. Kemudian, kedua orang tuaku masuk kedalam ruang boarding dan aku masih di luar bersama dengan Annisa.

“Sayang jaga kesehatan ya disana, jangan nakal.. Harus bener bener cari ilmu disana, kalu sudah selesai cepet kembali kesini lho!” Annisa mewanti wanti aku. “Siap sayang, pasti itu!! Hihihihi..” jawabku sambil bercanda, tapi memang tulus dari hati ku.

“Kamu juga ya sayang, jaga kesehatan, jangan nakal, dan terus semngat. Tunggu aku kembali ya sayang. I love U sayang.” Pintaku pada Annisa. “I love U Too sayang.” Balas Annisa. Tak lama kemuadian aku sekeluarga harus segera naik pesawat, karean pesawat sebentar lagi akan lepas landas.

Disinilah awal dari ujian kami. Annisa yang memandangi pesawat yang aku naiki dari jendela kaca bandara, sedangkan aku memandangi Annisa di balik jendela pesawat yang semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat lagi.

Perasaan was was dan sedihpun mulai muncul diantara kami berdua. Tapi kami yakin jarak dan waktu tak akan mengalahkan kuatnya cinta kita. Sampai hari dimana kita akan bertemu kembali.

***

Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya aku sampai di Jepang. Segera aku dan keluargaku menuju sebuah apartemen yang sudah di sediakan oleh perusahaan ayah ku, begitu juga dengan tempat kuliah ku yang sebelumnya sudah di persiapkan ayah ku.

Sesampainya di apartemen, aku mulai membereskan isi dari koperku untuk ku pindahkan di lemari – lemari kamarku. Ku taruh barang barang ku satu persatu pada tempatnya, tapi ada satu barang yang spesial bagi ku, yaitu sebuah cincin dan rantai untuk dijadikan kalung terbuat dari kunigan yang kami beli berpasangan dengan Annisa, masing masing cincin itu terdapat namaku dan nama dia. Mungkin tak ada nilainya cincin itu, tapi bagi kami begitu berarti.

Sementara itu, setelah mengantarkan keberangkatan ku di bandara tadi dia langsung pulang kerumah. Tak pernah terpikirkan oleh Annisa bahwa dia dan aku harus berbisah sementara waktu. Walaupun hannya 4 tahun, mungin sangatlah lama bagi Annisa dan begitu aku pastinya. Lagi lagi kita hanya bisa percaya akan cinta kita, jarak dan waktu tak akan mengalahkan cinta kita. Sambil tersenyum menahan sedih Annisa mencoba untuk bertahan. 

***

Ditahun pertama, semua terlihat baik baik saja hingga kelulusan sekolah Annisa pun tiba. Bagi Annisa, kelulusan itu malah menjadi kesedihannya. Karena disaat yang berbahagia ini dia tak bisa merayakannya dengan ku. Tapi setidak suara ku bisa menenangkan sedikit kesedihan dihatinya. Hanya lewat Hp lah kami bisa berkomunikasi.

Kami berbicara panjang lebar setiap kami lagi ada kesempatan menelpon. Sayangnya, walau lewat telpon kami tidak bisa lama lama, karena masih ada tugas yang harus aku kerjakan disini. Untunglah Annisa bisa mengertikan itu.

Setelah kelulusan itu, Annisa meneruskan kuliah juga yang tak jauh dari rumahnya. Mulailah kesibukan diantara kami hingga membuat kami semakin jarang berkomunikasi. Disaat aku free tapi dia tidak, sedangkan disaat dia free aku tidak. Begitulah hingga setahun berikutnya.

Dan 2 tahunpun terlewati setelah kepergianku. Kami semakin sulit untuk berkomunikasi, yang biasanya bisa seminggu sekali menjadi 2 minggu sekali, menjadi sebulan sekali. Kami mulai sedikit melupakan masa masa dimana kita saling merindu dulu dengan alasan kesibukan kuliah.

Bukan karena ada orang ketiga yang membuat kami terlihat semakin menjauh, tapi karena kami terlau serius untuk menuntut ilmu. Hingga suatu hari aku melihat cincin yang berdebu tak pernah kupakai membuat ku mengingat seseorang, yaitu Annisa. Disaat ku mulai jenuh dengan tugas tugas kuliah ku mulai membuka album foto di laptopku.

Foto foto dimana saat aku dan Annisa lagi bersama. Ku senyum senyum sendiri tapi entah mengapa air mata ini menetes. Rindu itu menusuk ku dalam dalam tepat di relung hati ku yang paling dalam. Segera ku ambil Hp ku dan ku coba untuk menelpon ku. Disaat yang bersaamaan Annisa juga begitu rindu dengan ku, melihat cincin yang dipakai di jari manisnya, walau hanya cincin dari kuningan itu adalah barang yang sungguh berati baginya, yang selalu mengingatkan akan diriku.

“Kringggg.. Kringggg..” Suara Hp Anniasa berbunyi. Segera dia mengambil Hp yang berada di tas dan dilihatnya ternya ta dari belahan hatinya. “Halo.. sayang?.” Annisa tak sabar ingin mendengarkan suaraku. Karena hamper 3 bulan ini kami tak pernah telpon.

“Halo.. iya sayang.. Aku sangat merindukan mu sayang. Bagaimana kabarmu disana?. Tanya ku khawatir kepada Annisa. “Aku baik baik saja kok sayang, kamu juga kan.. Aku juga sangat merindukanmu sayang.” Tetes air mata Annisa pun menetes sambil memnjawab pertanyaanku.

“Sayang sebentar lagi aku wisuda, pekerjaan ayahku sudah segera rampung. Aku akan segera kembali menemuimu sayang.” Memberi kabar gembira untuknya. Dan percakapanpun berlangsung lama hingga larut malam.

***

Bebrapa hari kemudian, tanggal 13 Juli 2014.

Tak terasa sudah 4 tahun berlalu, Kelulusanku dari Universitas Jepang juga sudah di depan mata, dan kerjaan ayahku juga sudah terselesaikan. Saatnya untuk kami untuk kembali ke Indonesia, kembali bertemu dengan Belahan jiwa ku.

Malam sebelumnya aku sudah memberitahu Annisa bahwa hari ini aku akan pulang ke Indonesia, sehingga Annisa pun tak sabar bertemu dengan ku dan menunggu ku di bandara. Padahal aku barusaja lepas landas dari bandara Jepang, Tokyo.

Aku mulai tak sabar dan mulai memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti hingga ku lelah dan tertidur. Annisa yang sudah dari tadi siang menunggu ku di bandara dengan was was menunggu ku dengan hati yang gembira.

Beberapa jam pun berlalu, sekitar pukul 20.00 aku tiba di bandara SoeTa Indonesia. Begegas aku menuju Annisa yang sudah menungguku lama, dan akhirnya aku pun bertemu dengannya serta kupeluk dia erat erat. 

“Sayang.. Aku benar benar merindukanmu sayang..” Kataku dalam pelukku. Aku pulang tak mungkin tak membawa apa apa. Aku sudah menyiapkannya dari kemarin sebelum keberangkatannku kembali ke Indonesia. Tanpa sempat Annisa menjawab, ku lepas pelukku dan berlutut di hadapannya.

“Sayang.. maukah kau menikah dengan ku?” dengan membuka kotak kecil berwarna merah hati berisikan cincin emas. Annisa tak kuasa menahan haru dan berkata “Ya.. aku mau.!” Segera ku pasangkan cincin itu kejari manis Annisa yang sebelumnya hanya terpasang cincin dari kuningan sekarang menjadi cincin emas yang akan selamanya mengikat kami berdua.

Karena waktu itu Annisa masih kuliah, maka kami bersepakat untuk melangsungkan pernikahan setelah Annisa lulus kuliah. Waktu itu aku sudah di terima kerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, jadi aku tak khawatir dengan masalah dana pernikahan, semua sudah kuatur dengan sedemikian rupa.

***

Hingga satu tahunpun berlalu, Annisa yang sudah lulus dari kuliahnya. Kamipun segera melangsungkan pernikahan di tanggal yang sebelumnya sudah di sepakati oleh kedua belah pihak keluarga.

Kami pun akhirnya bisa bersama lagi seperti dulu, 4 tahun yang begitu lama bagi kami akhirnya terbalaskan hari ini dengan yang lebih indah lagi, dengan ikatan yang pasti. Kami percaya, jarak dan waktu tak kan mengalahkan cinta kita. Itu memang benar.

Jika kita saling percaya dan saling mencintai, apapun pasti akan terjadi. Sesulit apapun jalan yang akan kita tempuh pasti ada jalan yang lebih baik di kemudiah hari.

1 comment: