Saturday, May 9, 2015

Bukannya Aku Tak Berusaha, Tapi Tak Bisa


Senyum manismu seakan memancarkan cahaya di wajahmu membuat mentari enggan berdiri dan burungpun enggan bernyayi. Elok paras wajahmu bagaikan taman pelangi penuh dengan warna warni keindahan di dalamnya. Bunga serentak melayu, gumpalan awan putih menghilang, langit biru yang memudaar terpesona akan kecantikanmu. Membuat hati ini tak kuasa menahan hasrat untuk mencintaimu, menyayangimu dan memilikimu. Mungkin terdengar egois bagimu tapi inilah ungkapan hatiku sebenarnya untukmu, tapi sayang diri ini tak bisa untuk berusaha dan mencoba meraihmu. Bukannya aku tak mampu, hanya saja aku tak bisa. Tak bisa berharap lebih darimu yang telah memilih seseorang di hatimu.
--- *** ---


“Kringgggg...” jam wekerku berbunyi, menandakan aku harus beranjak dari singgahsana kerajaan mimpiku. Bebenah diri, mandi dan lain-lain kemudian sarapan dan bergegas menuju kampus tercinta dengan kuda kencana yang selalu setia menemani aku melangkah, walau terasa mulai malas untuk datang ke kampus, tapi akhir-akhir ini aku mulai bersemangat lagi karena ada seorang gadis di kelas baruku yang membuat hari-hariku cerah lagi dengan senyuman manis di wajahnya. Hanya dengan melihatnya saja seakan dunia ini penuh dengan hal indah yang tercipta untukku, seperti dia.

Baru pertama kali aku melihatnya dan entah kenapa muncul suatu perasaan aneh tapi begitu menenangkan, perasaan bahagia dan mengebu-gebu ingin terbang melayang dan mengapai bintang yang paling terang di angkasa lalu turun dan akan ku berikan padanya sebagai bukti kalau aku senang karena bisa mengenalnya. Apakan ini yang dinamakan cinta pandangan pertama? Aku tak tahu.

Namanya Mei, Ayu Mei dengan perawakan kecil, sedikit tomboy dan cuek tapi ketika dia tersenyum bagaikan rembulan yang bersinar di malam hari yang cerah, begitu menenangkan dan membuatku nyaman. Namun hari begitu cepat berlalu, hari demi hari terlewati tiada pasti, daun berguguran satu demi satu bersamaan dengan angin di terik siang yang mulai menyengat dan merasuk kedalam hati ini hingga membuat goresan luka karena belum ada berkembangan sedikitpun tentang kedekatan aku dan dia, iya dia.

Bukan akunya yang tidak berusaha untuk mendekatinya tapi ketika aku mencoba mendekatinya seakan ada dinding pembatas antara aku dan dia. Di setiap obrolan kita selalu menjadi lebih singkat dan cepat berlalu begitu saja, tapi aku takkan pernah berhenti untuk memenangkan hatinya.

Terkadang ku bersedih dalam angan dan membuat hati ini sesak oleh kebodohanku yang terus manahan perasaan ini, ku pikir tidak mungkin bisa sesuai harapan karena kita baru saja kenal. “ Akan lebih baik jika aku lebih bersabar lagi dan mencoba mengenalnya lebih jauh agar aku tak menyesal nantinya.”, pikirku dalam hati.

Kesempatan, di jam istirahat aku melihat Mei lagi duduk sendirian di dekat pintu kelas, tanpa komando aku langsung mendekatinya dan mencoba mengobrol dengannya sekalian mengorek sedikt informasi tentangnya.

“Hai Mei... Lagi apa? Sendirian aja?...”, tanya ku dengan senyum termanis yang bisa ku buat.

“ Eh... Ari... Ini lagi baca-baca aja Ri, lagi males ngapa-ngapain...”, jawab Mei dengan senyum di wajahnya. Hm... Melihat senyumnya saja aku sudah bahagia banget apa lagi hari ini senyumnya untukku, serasa berada di surga dunia. Terdengar lebay mungkin tapi itulah yang aku rasakan saat itu. Kemudian percakapan cukup panjang pun akhirnya terjadi juga tapi sayang waktu matakuliah berikutnya sudah tiba, dengan berat hati aku harus mengakhirinya, tapi setidaknya hari ini aku bisa mendapatkan nomer teleponnya.

Dari pembicaraan itulah aku mulai sedikit mengenalnya dan mulai ada koneksi antara aku dan dia. Setiap hari aku mencoba sesering mungkin untuk mengobrol dengan Mei dan berharap mendapatkan apa yang aku harapkan dari pertama kali aku mengenalnya, yaitu cintanya.

Hubungan kamipun mulai semakin dekat, kita jadi sering curhat dari hal sepele hingga yang cukup rahasia. Tanpa ada rasa canggung lagi saat bertemu dan bercanda tawa lepas bersama teman yang lainnya, tidak seperti dulu yang hanya saling sapa dan pembicaraan terselesaikan dengan cepatnya.

Malam ini begitu indah entah kenapa seakan rembulan penuh tanya, “ Ada apa gerangan engkau terlihat begitu bahagia?”, tanya sang rembulan.

“ Aku sedari dulu sudah berbahagia, tapi malam ini lebih dari bahagia karena esok aku akan berjalan berdua di taman surga dunia bersama bidadari pujaan hati ini.” Jawabku dalam angan. Sang bulan terlihat ikut senang dengan datangnya bintang-bintang yang mulai terlihat ramai menghias awan malam ini, seakan mereka ingin ikut merayakan kebahagiaan ini.

Beberapa hari yang lalu aku berinisiatif untuk mengajaknya jalan, dengan alasan bosan dirumah dan tugas kampus yang menumpuk. Berbagai alasan aku katakan ke Mei dan pada akhirnya ia menyanggupinya.

Hari pertemuan pukul 09.00 WIB, aku sudah berada ditempat yang telah di janjikan kemarin. “ Hari ini akan aku jadikan momen terindah yang takkan pernah aku dan dia lupakan, Yoshh....” Teriakku dalam hati dengan menepuk wajahku agar terlihat meyakinkan.

Beberapa menit setelah aku samapai di tempat janjian Mei datang. “ Aduh maaf ya Ri aku telat...” Kata Mei sambil mengatur nafasnya. Mungkin karena dia sempat berlari menuju tempat janian ini.

“ Oh gak pa pa Mei... Aku juga baru sampai kok, yaudah kita langsung masuk saja yuk...” ajakku sembari emberikan tiket taman bermain yang telah aku barusan beli, dan kita pun memulai petualangan taman bermain.

Detik demi detik berlalu menjadi tiap menit yang berharga, tak terasa hari mulai gelap. Aku pikir ini kesempatan bagus untuk mengungkapkan perasaan ku padanya dengan menaiki permainan terakhir bianglala. Sengaja memang aku naiki di akhir, karena aku sedang menunggu momen yang pas. Karena pada saat sore hari menjelang malam, kita bisa melihat sunset ketika kita menaiki bianglala, pasti sungguh romantis. Tanpa pikir panjang akupun mengajak Mei menaiki bianglala.

“ Cklek...”, suara pintu bianglala di buka, kemudia aku dan Mei pun masuk kedalamnya. Benar saja, pemandangan yang kami lihat saat ini begitu indah dengan perpaduan warna merah keemasan dan orange saling menyatu. “ Inilah kesempatanku...”, ocehku dalam hati.

“ Mei, sebenarnya ada yang aku ingin katakan padamu...”, sambil menatap wajahnya yang penuh akan keindahan.

“ Iya Ri, ada apa? ” jawab Mei singkat.

“ Mei... Aku suka padamu, aku mencitaimu sejak pertama kali kita bertemu... Mei... Maukah kamu jadi kekasihku?... ” berkata tulus dari hatiku yang paling dalam dan penuh dengan harapan.

Waktu seakan terhenti ketika aku melihat ekspresi terkejut Mei dan mengalihkan pandangannya setelah mendengar pernyataanku tadi. Entah apa yang membuatnya seterkejut itu, apakan adal yang salah dengan perkataan ku atau memang ini bukan waktu yang tepat untuk meytakan cintaku, aku tak tahu.

“ Mei... Aku akan terima apapun jawanban darimu... Aku tak akan pernah memaksa kamu untuk mencintaiku...”, bujukku agar dia tau karena aku tak mau cinta yang di paksakan. “ Kenyataan pahit pun akan aku terima walau itu berat untukku, tapi setidaknya aku tahu akan isi hatimu padaku. ”.

Mei masih memilih bungkam dan belum mengeluarkan sepatah katapun, entah karena bingung harus menjawab apa atau karena ada masalah yag takbisa dia ungkapkan. Pada akhirnya akupun mencoba mencairkan suasana dengan membuka topik orbolan baru walaupun sempat diem-dieman beberapa saat. Ketika aku hendak mengeluarkan pembicaraan baru Mei mulai angkat bicara.

“ Maaf Ri sebelumnya, aku mungkin sudah banyak cerita ke kamu tentang hidupku tapi tidak dengan cintaku yang sesungguhnya. Sebenarnya aku sudah mempunyai seseorang yang aku suka dan itu bukanlah kamu.”, pengakuan Mei yang baru aku dengar membuatku sedih dan sedikit terbawa emosi. “ Aku sudah menyukainya sejak masih sekolah di SMA, dia mantan pacarku dulu dan aku tak pernah bisa melupakannya. Sebenarnya aku ingin menceritakan ini pada mu sejak dulu tapi aku gak bisa, karena aku takut akan membuatmu kecewa. Sebenarnya aku sudah tahu kamu memiliki perasaan pada ku, aku mengetahuinya dari teman dekatmu. Tapi... Maafkan aku, aku tak bisa menerima cintamu. Ari... Maafkan aku. ”, sambung Mei dan mengakhiri percakapan hari itu. Kamipun pulang dan mencoba menahan rasa masing-masing dalam angan.

Keesokan harinya, setelah kejadian penembakan itu, hubungan ku dengan Mei menjadi seperti dulu. Seperti pertama kali kita bertemu, hanya saling bertegur sapa dan tak ada lagi yang spesial dari hubungan ini lagi. Apa aku yang salah atau juga aku yang kurang berusaha. Menurut ku, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan cintanya, tapi aku tetap tak bisa, tak bisa untuk berharap lebih untuk menjadikannya seseorang yang bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku ini.

By : SiBocahlaliOmah - R_Az





0 Celotehan:

Post a Comment