Wednesday, February 18, 2015

Teman Ku, Kekasih Ku


Saat itu… di kala senja di sebuah pantai, aku duduk berdua dengan seseorang yang sangat aku cintai, dengan di temani deburan ombak danangin pantai meniup lirih sungguh suasana yang sangat menenangkan hati. Aku mulai mengungkapkan perasaan itu kepadanya, tapi Tuhan berkata lain. Dia tidak memiliki rasa yang sama dengan ku, walaupun kami sudah dekat sejak lama bukan berarti dia bisa menerima karena hal itu. Mungkin ada alasan lain sehingga dia hanya ingin menjadikanku seorang teman. Ok, I’m fine.


Sejak saat itu pula kehidupanku yang dulu selalu ceria menjadi sedikit berubah. Yang dulu selalu ada canda tawa namun sekarang hanya memilih untuk diam dan mengenang masa itu. Ya… hanya ingin melewati hari dengan biasa saja, karena aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Hari demi hari terus berganti, mencoba mengobati luka di hati. Hingga aku mengerti akan sesuatu bahwa ada hal lain selain cinta yang bisa membawa hati ini bahagia. Teman, iya teman, selama ini aku menafikkan itu semua bahwa aku membutuhkan teman untuk bahagia. Kekasih hanyalah sebuah bonus dari sebuah pertemanan, karena kami saling mengerti satu sama lain dan tidak bertepuk sebelah tangan.

Suatu ketika di perpustakaan Nasional yang biasa aku kunjungi untuk menghabiskan waktu aku bertemu teman lama ku. “Hai Ari… Apa kabar? Wah sudah lama nih tidak bertemu.” Sapa salah satu teman lama saat masih sekolah menengah (SMP).

“Wah… Desy… Baik, kamu?, Eh, Makin cantik aja nih… Hehehehe…”

“Aku baik juga kok Ar… Ah kamu bisa aja Ar. Kamu juga makin jelek aja… Ups… Hahahaha…” Canda Desy.
Sambil menatap wajah cerianya, “Sekali lagi aku mengerti, cinta tak harus di cari dan di paksakan. Biarkan waktu yang menentukan dan menghubungkan kami pada seseorang yang pas untuk kami.” Pikirku dalam hati.

Semenjak pertemuan itu, benih - benih cinta muncul tak aku duga, layaknya sebuah air yang mengalir dan menemukan tempat yang layak untuk berhenti dan membaur dengan yang lain. Daun yang berguguran di musim semi, angin yang selalu berhembus lirih dengan membawa kenangan perih di masa lalu yang pernah aku lalui. Tapi bersamaan dengan itu aku menumukan hal yang lain, seperti cinta tapi ini berbeda dari waktu itu.

Mungkin ini cinta pandangan pertama, tapi mungkin juga tidak karena aku sudah mengenalnya sejak lama. Banyak hal yang tak di duga terjadi di hidup ini, seperti saat ini ketika aku sedang patah hati karena masa lalu itu dan aku akhirnya bertemu dengan teman – teman ku dan bertemu belahan jiwa ku.

Walau aku masih sedikit khawatir akan perasaan dia ke pada ku. Tapi aku hanya bisa berharap dan berdoa agar dia memiliki rasa yang sama pada ku. Tak perlu butuh waktu lama untuk mengenal kembali dia, dan kami pun kurang lebih sudah saling mengerti akan masing – masing dari kami. Suatu ketika aku mengejaknya jalan ke sebuah taman bermain, berharap membuat kenangan indah bersamanya dan melupakan hal buruk yang terjadi di masa lalu karena sebuah cinta.

Dan ternyata itu menjadi sebuah hal yang tak terduga, setelah beberapa bulan aku jalan bersamanya akhirnya aku memutuskan untuk menyatakannya. Aku pikir ini waktu yang tepat, di kegelapan malam disinari oleh cahya bulan dan bintang yang bertaburan di langit malam. Aku duduk berdua di sebuah bangku pinggir taman, di temani oleh musik jalanan yang romantic membuat suasana menjadi tenang dan menenangkan. Entah ini suatu kebetulan yang tak terduga lainnya, aku semakin percaya dengan pepatah itu.

Aku mulai menantap wajahnya begitu juga dirinya, seakan sudah mengetahui apa yang akan terucap di mulut kami masing – masing. Saat aku menyatakannya,”Desy… maukah kamu jadi kekasihku?... “ dia terdiam sejenak dan mulai menganggukkan kepalanya dan berkata.
“Aku mau jadi kekasihmu…” Jawab lirih Desy.

Entah mimpi apa aku semalam, hingga malam inipun seperti mimpi. Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk saling mengerti satu sama lain, karena kami dulunya adalah teman dan bukan seorang yang dipuja sebelumnya. Seperti cintaku yang dulu, membutuhkan waktu lama untuk menakhlukkan hatinya walau pada akhirnya kami hanya menjadi teman dan menyisakan luka.

Berbeda dengan sekarang ini, karena kami adalah teman dan dari teman itu kami bisa mengerti sedikit tentang diri kami masing – masing. Walupun tak selalu sebaik ini, pasti ada nilai tersendiri dari sebuah ikatan pertemanan. Aku percaya.


Teman ku Kekasih ku. Pepatah yang pernah ku dengar mengatakan, “ Kalau Jodoh Gak Akan Kemana dan bla bla bla… “ Seperti itulah.


SiBocahLaliOmah - R_Az



0 Celotehan:

Post a Comment