Saturday, November 14, 2015

Sang Penjaga Hati

Aku berjalan dalam kehampaan dunia, menari-nari di kesunyian malam, sendiri... sambil menunggu datangnya mentari yang akan menyinari jalan hidupku ini. Bukan untuk menanti seseorang terkasih tapi menunggu sang penjaga hati, yang selalu setia dan tak pernah pergi ketika aku lemah dan tak tahu arah. Layaknya sang mentari yang selalu membagikan cahanya kepada sang bulan, terang nan indah menjadikannya pujaan setiap insan didunia.


***

“Ari... Woiiiii...” Teriak sahabatku Didin, tepat di telingaku karena aku sedikit melamun ketika Didin sedang asyik dengan celotehannya dan aku tak mendengarkannya. Didin seorang yang ceria dan baik serta sahabatku dari kecil hingga sekarang.

“Kampret lu Din..” Sambil menata pendengaranku yang sedikit sakit karena teriakannya. “Apaan sih?...” Sahutku.

“Lha lu gua ajakin ngobrol juga, ehh.. malah bengong..” Dengan nada sedikit kesal.

“Hahahaha... Sory Din sory...” Senyum-senyum gak jelas.

“Emank lu mikirin apaan sih? Sampek gak fokus gitu gua ajakin ngobrol?.. Ha..” Tanya Didin penasaran.

“Gak.. gua cuman mikir aja, kenapa sang mentari harus selalu terbenam dan mau digantikan oleh sang bulan, padahal sang mentari dapat hidup sendiri tanpa sang bulan, iya kan?..” memasang muka serius.

“Lu ngomong apaan sih.. Gaje banget dah.. Beh... Efek jomblo lu ye... Makanya nyari cew sono.. Hahahaha...” Canda sahabatku. Ya.. Hari-hari ku menyenangkan karena ada dia walau terkadang sangat mengganggu tapi aku senang dia ada, setidaknya kami tak munafik serperti wanita saat ini yang tak bisa jadi dirinya sendiri dan mulai menirukan orang lain walau tak semua wanita termasuk dia.

Setelah percakapan absurb kami di tepi pantai yang penuh dengan kenangan setiap manusia yang pernah kesini kami beranjak pergi dan pulang kerumah masing-masing. Perjalanan liburan sehari yang cukup menyenangkan walau hanya beberapa orang saja. Hari itu memang lagi libur kuliah dan kami manfaatkan untuk berlibur bersama beberapa teman pastinya.

Sesampainya dirumah, aku langsung membersihkan diri dan langsung tidur, berharap waktu akan berputar dengan cepatnya dan aku dipertemukan dengan seseorang putri yang bisa mebawaku pergi dari kehampaan ini.

“Tittiriitritiitriititiriiittiiiitttt....” Alarm Hp ku berbunyi menandakan pukul 5 pagi dan aku harus bangun dari dunia yang selalu membawaku dalam keterlenaan yang aku ciptakan sediri, yaitu mimpi.

Seperti biasa, bangun pagi bebenah diri sedikit olahraga dan sedikit vitamin penyejuk hati, yaitu senyuman yang aku paksakan didepan kaca kamarku. Berbenah diri agar sedikit tamvan dan dan terlihat menyenangkan, sarapan pagi yang sudah disiapkan ibu ku tercinta yang selalu memberikan asupan energi untukku.

Waktu menunjukkan jm 7 pagi saatnya aku berangkat kuliah yang tak jauh dari rumahku bersama kuda jingkrak kesayangan karena memang tidak ada lagi yang di sayang keculai keluargaku. Pelan-pelan ku mnegendarainya sambil menikmati sejuknya udara pagi dan tak terasa sudah sampai kampus dan saatnya aku berperang melawan rasa gelisah dan takut akan tugas akhir yang dinamakan Skripsi. Ya, aku mahasiswa tingkat akhir yang ingin cepat lulus dan segera ingin mendapatkan kerja yang layak kemudia menikah muda. Tapi... Kalaupun semua itu terwujud, mungkin yang menikah muda akan batal karena sampai sekarangpun aku belum mendapatkan tuan putriku walupun sebelumnya aku sudah beberapa kali pacaran tapi kandas ditengah jalan karena kerikil yang menyakitkan, entah... Bisa dibilang aku sudah menjomblo 3 tahun karena komitmen untuk tidak berpacaran dulu dan menemukan yang terbaik atau memang aku belum menemukannya selama itu.

Sudahlah memang hidup tak semudah yang aku harapkan, tapi aku akan berjung untuk segalanya dan mendapatkan ending yang terbaik pula. Sakit-sakit dulu senang-senang kemudian asalkan jangan terlalu sakit dan tak pernah bersenang-senang. Bisa gila nantinya aku...

Jam kuliah sudah berakhir. Aku bertemu Didin di lorong kampus. Didin dan aku satu kampus namun beda jurusan, dia ambil teknik dan aku ambil sistem informasinya.

“Ari... Bantuin Skripsi gua donk, gua gak paham banget nih sama bahasan gua ini.. Pleaseeee...” Rengek Didin dengan muka memelas seperti pengemis dijalanan.

“Iye iyeee.. Ntar gua bantuin... Beh..” Balasku dengan berat hati.

“Nhaaa gitu donk sob... Hihihi.. Nanti ngerjainnya dirumah gua aja yee, soalnya gua gak bawa laptop hari ini jadi langsung kerumah gua aja. Oia nanti gua kenalin temen gua dah.. Hihihi...” 

“Hafuhh... Iye dah serah lu Din...” Percakapanpun berakhir dan kami langsung meluncur kerumah Didin. Hari itu aku lagi tidak ada kegiatan dan memang tidak pernah ada kegiatan sama sekali karena sepulang kuliah aku langsung beranjak pulang.

Sesampainya dirumah Didin kami langsung fokus untuk mengerjakan Skripsi baik punya ku sendiri dan punya Didin hingga larut malam, tapi yang pasti di selingi dengan game dan cemilan yang membuat aku betah dirumah Didin. Dulu rumah kami bersebelahan ketika kami masih kecil dan kami sering bermain bersama hingga keluarga Didin pindah karena alasan pekerjaan Ayahnya, tapi walaupun kita berjahuan kita masih sering ngumpul baereng. Apalagi sekarang rumah Didin lebih besar dari rumah sebelumnya dan bnyak makanan serta game-game yang sangan menyenangkan.

“Hoammm.. Gua dah ngantuk nih, jam berapa sih sekarang?” Tanya ku ke Didin.

“Em... Jam 12” jawab Didin singkat.

“Em... Jam 12 toh.. Eh jam 12 malem ya... Welehhh gua balik aja dah gak enak sama orang rumah”

“Ya elah nginep sini aja sih... Oia kan tadi mau gua kenalin sama cew, nih di facebook gua nih liat... Cakep gak? Hihihi...” 

“Mana-mana? Coba liat...” Aku mencoba mebuka mataku yang mulai panas ini akibat liat laptop dari tadi siang. “Weh.. iye.. Kenalin lah... Hihihi...” Naluri cow ku keluar hingga lupa kalau tadi ingin pulang kerumah.

Kami membahas tentang temen cew Didin yang akan dikenalin ke aku dan merencanakan akan ketemuan sabtu depan. Aku sudah tak sabar menunggu hari itu, karena menurut instingku cew itu ada yang spesial, entah apa yang pasti aku ingin tahu.


0 Celotehan:

Post a Comment