Sunday, January 25, 2015

Terjebak (Dalam) Cinta yang Dangkal


            Kisah cinta memang tak pernah ada habisnya, dari cinta yang benar benar diinginkan sampai cinta yang terabaikan dan bahkan menjadikan semua itu hanyalah hayalan. Entah apa yang mereka fikirkan tentang cinta, begitupun juga tentang cinta ku yang aku fikir adalah yang terbaik untuk hati ini tapi ternyata aku salah, semua berubah ketika waktu terus berjalan beriringan dengan jalannya cinta kita.

            Apakah memang bukan jodoh atau apakah memang aku yang salah memilih atau juga karena aku yang terburu buru untuk mendapatkan sebuah cinta. Saat itu aku yang memang sedang membutuhkan cinta atau karena nafsu belaka. Semula yang beriktikad untuk tidak berpacaran dulu malah kepincut dengan teman smp dulu. Sungguh membingunkan, mungkin saat itu aku benar benar sedang membutuhkan sebuah cinta, perhatian dan kasih sayang.

            Semua ini berawal dari aku membuka sosmed facebook, aku lihat grup facebook alumni smp dan kulihat beberapa teman memberikan pinnya. Secara karena aku ingin berkomunikasi lagi dengan teman teman smp yang dulu akupun inisiatif untuk menginvite mereka, salah satunya adalah dia.



***

            “ Oah… bete nih liburan kuliah gak ada kerjaan, interneta ah.” Sambil membuka laptop. Kemudian akupun mulai berselancar di dunia maya, tapi akhirnya facebook jadi tujuan akhirku. Cari mencari informasi tentang siapapun yang menjadi teman ku, dan matakupun tertuju pada grup smp ku yang lama. Walaupun terkesan sudah jarang yang chat disitu masih ada beberapa anak yang masih mencoba untuk meramaikannya, apa lagi dengan ramainya penggunaan BBM di android yang secara tidak langsung meningkatkan pengguna BBM. Dari situ banyak teman yang mulai share pin mereka untuk di invite, dan akupun tak ketinggalan untuk nitip pin juga disitu, itung itung ada temen lama yang masih inget dengan ku. Cari mencari dan akhirnya ku dapatkan beberapa pin temen.

            “ Wih.. lumayan nih buat nambah kontak BBM ku, sekalian silaturrahmi ma temen lama.” Ambil Hp kemudian siap meng invite ssatu persatu pin tersebut. Setelah itupun ku mencoba chat satu persatu kontac baru ku itu.

            Beberapa hari kemudian, akupun mulai chatingan sama dia dan beberapa teman lama yang lainnya. Awalnya memang seperti teman biasa, tapi semakin lama kami berhubungan kamipun mulai ada perasaan masing masing yang belum bias di ungkapkan, entah itu persasaan cinta apa hanya sebatah sayang terhadap teman atau shabat. Kami hanya menikmati hubungan ini walau tidak pernah bertemu saat itu, jadi kami hanya berhubungan lewat bbm saja. Taulah, kami memang berada di tempat yang cukup jauh, berbeda tempat aku di ibu kota Jakarta dan dia berada di Sidoarjo. Aku yang saat itu memang sedang menjalani study di sana begitupun juga dia. Aku hanya pulang 6 bulan sekali, itupun tak lama hanya 1 sampai 2 minggu.

            Hubungan kami memang terkesan masih sebentar walau sudah 3 bulan kami mulai berhubungan lewat bbm saja. Entah apa yang terfikirkan oleh ku dulu hingga ku ucapkan “ Aku suka kamu, maukah kamu jadi pacarku? “ begitu mudahnya mulut ini mengeluarkan kata itu, tanpa tahu kepastian hati ini yang sebenarnya.

            Kenapa juga dia mau menerima perasaan itu, padahal kita belum pernah bertemu satu sama lain, bercakap secara langsungpun belum pernah, hanya lewat telpon saja. Apakah dia seyakin itu menerimaku, apakah dia tak pernah berfikir kalau kita baru beberapa bulan saja berhubungan dan banyak pertanyaan yang saat itu juga membuat ku bimbang. Tapi semua itu ku tepis dengan jawaban “ Semua akan baik baik saja, kita jalani saja dulu.” Walapun begitu, hati ini masih ragu dengan apa yang ku lakukan saat itu.

            Awal percintaan kita memang baik, sms telponpun makin sering. Saling berbagi cerita walaupun masih banyak kebohongan di dalamnya, kami menikmatinya. Canda tawa tercipta dengan kata kata indah dari lidah yang tak bertulang. Hingga beberapa bulan pun terlewati, mulai ada rasa yang tidak nyaman di hati ini, rasa yang tidak bisa aku bendung untuk waktu yang lama, akhirnya aku mulai mencari banyak alasan untuk tak menghubunginya.

Telpon, “Sayang kamu ini kenapa sih, semakin hari semakin gak ada waktu buat aku… Sms gak d bales, BBM Cuma di read doank trus telpon gak di angkat… Kamu sibuk? Bilang dong sayang?...” Bla.. bla.. bla dan bla… banyak pertanyaan lainnya dan aku hanya jawab “ Maaf saying aku lagi ngerjain tugas ini, lagi banyak tugas..” yang kenyataannya aku hanya tiduran di kamar kos gak jelas.

            Semakin hari kami semakin jarang berhungungan, hingga suatu saat waktu liburanpun datang. Aku kembali ke kampung halaman ku, yaitu Sidoarjo pastinya. Secara tidak langsung kamipun berencana untuk ketemuan dan ingin membicarakan banyak hal, kami sepakat akan nonton nantinya.

            Walaupun rasa tidak nyaman itu makin menjadi, tapi aku abaikan mungkin saja setelah pertemuan ini aku bias membuang perasaan tidak nyaman itu. Hari pertemuanpun datang, aku menjemput dia kerumahnya. Dari pandangan pertama saat bertemu mungkin aku senang akhirnya aku bisa bertemu dengan kekasihku, melihat wajahnya secara langsung, bertegur sapa tanpa ada rasa canggung, tapi rasa itu masih belum hilang. Kamipun berangkat menuju bioskop itu.

            Sesampainya disana, kami sedikit terlambat untuk memasuki ruangan bioskop tersebut, tapi kami masih tetap masuk dan mulai memnonton film. Kami memulai percakapan dari bagaimana kabarmu disana dan kamu juga, enak tidak di sana begitu juga sebaliknya. Memang banyak yang ingin kami bicarakan, hingga tempat nonton bukan lagi buat nonton tapi buat ngobrol dan melepas rindu.

            Setelah kami nonton, kamipun mulai jalan dan menghabiskan waktu pertemuan itu dengan senang hati. Makan bareng dan melanjutkan obrolan yang belum terjawab dan masih banyak lagi. Hingga hari mulau larut, kamipun memutuskan untuk pulang. Mungkin terkesan singkat bagi kami pertemuan itu, tapi pertemuan itu sungguh berarti bagi kami. Namun, perasaan itu masih bersarang di fikiranku dan membuatku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus ku katakan, dan banyak pertanyaan mulai muncul di benak ku saat mau tidur.

            Akhirnya membuat ku semakin bingung, akupun memutuskan untuk mengakhiri ini semua. Awalnya itu sangat sulit mengatakannya, aku harus berfikir panjang tanpa memperdulikan perasaan dia pada ku. Aku jadi terkesan terlalu egois, tapi sebenanrnya aku bingung dengan semua ini. Aku rasa lebih nyama kalau kita berteman seperti awal kita bertemu dulu.

            Tak ada kebohongan, tak ada kecemburuan yang berlebih, tak ada kekangan dan lain lain yang membuat kita semakin terkotak oleh kadaan yang semestinya tidak begini. Aku memang salah karena membawa dia terlalu jauh kedalam kepalsuan cinta ini, bukan palsu tapi ketidak tahuan tentang arti cinta yang sebenanrnya. Bukan asal memiliki dan membuat kita akan nyaman bersamanya, ternyata tidak, tidak semua cinta itu nyaman dan membuat kita semakin bahagia. Kalau memang jodoh, kata orang orang jawa dulu pasti ada jalan untuk kita kembali.

            “Elin.. Maaf aku ya… Lebih baik kita jalani seperti dulu aja ya… Sebagai teman…!” Dia hanya terdiam dalam tangis menahan semua rasa yang telah dia coba berikan pada ku. Aku kejam, aku tega membuat bunga layu di tangan ku sendiri. Tapia pa daya aku bukanlah mentari yang engkau cari aku hanya cahaya dari lilin yang akan berakhir padam pada waktu yang singkat. “Maafkan aku…”.

            Walaupun kau memintaku untuk kembali dan memperbaiki semua ini, kupikir akan sia sia. Karena aku sudah menyerah akan cinta ini, tak tahu apa yang harus dan bagaimana cara memulai lagi. Sekali lagi dan lagi memang ini yang terbaik untuk kita. Teman. Cinta ini tak semestinya ada, aku tak mau lagi Terjebak Cinta yang Dangkal…




SiBocahLaliOmah – R_Az



0 Celotehan:

Post a Comment